PART 1

 

Perempuan penggetar hati.

Halo semuanya, hari ini cukup cerah, dan kegiatan ku hari ini adalah bercerita kepada kalian semua tentang masa yang terabadikan. Hari dimana aku menjadi seorang yang paling bahagia. Perkenalkan, namaku Atlanta Gibraltar Danis. Kalian bisa memanggilku Danis.

Saat ini aku menjadi seorang mahasiswa fakultas hukum di Universitas Indonesia, ayahku seorang tentara yang saat ini bertugas di wilayah Suriah, enggak tau dibagian mana. Jadi sekarang, aku tinggal bersama ibu dan ketiga adikku, Rima, Aidil, dan Hani.

 

 Cerita ini dimulai saat aku masih sekolah SMA. Aku adalah murid kelas X IPS 3 semester dua akhir, SMA Andalas Jakarta. Saat pertama masuk SMA. aku bukan anak yang aktif, baik dalam ekskul ataupun kegiatan organisasi lainnya. Meski begitu aku terpilih menjadi salah satu anggota OSIS loh.

Aku memang tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain, kecuali kalau orang itu sudah lama ku kenal. Suatu hari setelah pulang kegiatan osis yang menyebalkan itu, aku bergegas langsung ke parkiran belakang sekolah. Ada seorang perempuan yang memintaku untuk membantu memindahkan motornya.

“ Eh, tolong dong keluarin motor gue”.

Sebagai anggota osis yang baik aku segera menolongnya, ya walaupun aku tidak terlalu bersemangat.

“ yang mana?. Tanyaku

“ itu yang warna putih”. Katanya sambil menunjuk motor skuter putih miliknya.

Ketika aku sudah memindahkan motornya, dia langsung pergi begitu saja, tanpa rasa terimakasih sedikitpun. Aku sih tidak merasa kesal sama sekali, karena aku pun bukan orang yang terlalu peduli dengan orang lain.

“cih, ada juga ya manusia seperti itu”. pikirku

Keesokannya aku penasaran siapa sebenarnya gadis tanpa ekspresi yang tidak tau rasa terimakasih itu. Tak disangka dia adalah penghuni kelas sebelah. Aku kaget karena bagaimanapun aku belum pernah melihatnya. Dari situ aku mulai penasaran dengan perempuan itu.

Mulai bertanya nama, rumahnya, kapan ulang tahunnya, meskipun hanya bertanya pada teman sekelasnya. Terkadang aku berfikir, mengapa aku jadi seperti ini, aku merasa terlalu terobsesi dengannya. Mungkin juga, banyak yang bilang, kalau aku suka kepadanya, padahal, hiiih, ogaaaahhhh….  

4 bulan berlalu, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan seseorang yang sangat tidak tau rasa terima kasih itu. Jujur, aku gugup saat aku mengulurkan tanganku. Keringat dingin pun mulai keluar, mungkin dari seluruh tubuhku. Ini memang perkenalan pertamaku yang aku lakukan secara normal. Karena sangat gugup, aku memejamkan mataku, aku takut kalau dia benar benar judes padaku.

“ hai, gue Danis, nama lo siapa?”

Bukannya mengulurkan tangan, dia malah bilang

“apa sih lo!.”

Benar saja, dia judes padaku. Aku ingat betul pandangan sinisnya terhadapku. Kata katanya langsung membuatku membuka mata dan menarik tangan yang kuulurkan.

 tapi bentar, kayaknya gue kenal lo deh.” katanya

. “ya kelas gue kan ada di sebelah kelas lo.”

sekarang mau lo apa?”. Katanya sambil melipat tangannya.

“gue cuma mau kenal sama lo”

. “lo mau kenal sama gue? Tapi maaf, gue gak mau”. Katanya sambil beranjak

Kata katanya sangat tak sopan. Mungkin bagi orang biasa, mereka tak akan mau mengobrol lagi dengan makhluk satu ini.

 Dan ya, dia meninggalkanku.

“Usaha pertama boleh gagal, karena tidak ada orang yang berhasil dengan sekali coba”. Itulah kata kata yang menjadi penyemangatku.

Esok pagi, aku menunggunya di depan pintu kelasku, menunggu dia datang untuk mencoba menyapa nya.

“assalamualaikum, selamat pagi “

Apa reaksinya? Dia hanya tersenyum kecil, lalu pergi masuk kelas sambil menggerutu, aku tak dengar dia bilang apa, tapi mungkin dia bilang “waalaikumsalam”.

walaupun begitu, aku cukup senang, karena aku bisa melihatnya tersenyum, walau hanya senyuman kecil. Hal itu aku lakukan hampir setiap hari, dan reaksinya hanya seperti itu. Aku khawatir dia merasa terganggu dengan hal yang ku lakukan.

Sampai akhirnya, sepulang sekolah, didepan kelasnya. Aku berbicara layaknya pertama kali berkenalan, dan dia melipat kedua tangannya.

“hai, maaf ya, boleh gue minta waktu lo sebentar?”. Kataku dengan ekspresi memohon.

harus berapa kali sih gue bilang ke lo?!, gue gak mau kenal sama lo”.

“iya maaf, tapi…”.

Sebelum aku menyambung kalimatku, dia pergi. Tanpa ragu aku mengejarnya, dia masuk ke toilet yang berada tepat disebelah kelasku. Aku tak bisa mengikutinya ke dalam, jadi aku menunggunya di luar. Sampai dia keluar dari toilet itu, aku melihatnya menundukan kepalanya, dan terdengar suara tangisan kecil.

“ lo kenapa? Gue minta maaf ya kalo gue bikin lo gak nyaman”.

“minggir lo !”. dia membentak ku

“ gue gak akan minggir, sebelum lo maafin gue”. Aku bicara dengan nada sedikit keras

Lalu dia menatapku dengan wajah sedihnya, ya benar, suara tangisan kecil yang aku dengar berasal darinya.

“maafin aku Ran….”.

Aku heran, kenapa dia minta maaf padaku? Padahal aku merasa kalau diriku yang membuatnya tak nyaman. Lalu, kenapa dia menyebut nama ran? Bagaimanapun aku tak pernah punya panggilan itu.

Saat dia beranjak pergi, aku meraih tas nya, menahannya pergi karena rasa penasaranku.

 “Ran? Ran siapa?”.

Dia menyingkirkan tangan ku dari tasnya, dan dia menggelengkan kepalanya, masih terlihat menangis.

 “gak apa apa kok, siapa tau gue bisa bantu lo”. Ujarku bermaksud menenangkan nya.

“gue gak kenal lo!,”. dia membentak ku, layaknya marah pada orang tolol

Aku melepas tanganku dan membiarkannya pergi, karena aku tak tau harus berbuat apa. Aku hanya terdiam di koridor itu. Saat itu tak ada siapapun kecuali pak Yanto,  penjaga sekolah yang sedang mengunci pintu laboratorium dan perpustakaan.           

“ cinta itu tak selamanya indah dek”

Pak penjaga sekolah mengagetkan ku dengan suara cempreng khas miliknya.

“ah, enggak pak, kami gak pacaran kok”. Aku membalas ucapannya dengan tatapan kosong, lalu pergi menuju parkiran sekolah.

Di atas motor, aku melihat sekitar, masih adakah dia disini? Aku ingin minta maaf.

Sahabat kecil terbaik.

Saat naik motor pun aku masih penasaran kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Tidak seperti gadis lain yang biasanya sangat menikmati pembicaraan. Kenapa harus menangis? Seburuk itukah sikapku di matanya? Terlebih siapa orang yang dia maksud? Siapa Ran itu?

Waktu itu aku sengaja tidak langsung pulang ke rumah, aku pergi ke rumah sahabatku, Firzha namanya.

            “ Assalamu’alaikum, Firzha!”

            Wa’alaikum salam”.

Suara kecil yang ku dengar dari dalam rumahnya, itu adalah Indah, adik perempuannya Indra.

            “ceh ada bang Danis, bang Firzha lagi di kamar, masuk aja”. Ujar Indah yang sedang menyapu lantai.

            “ iya, permisi….”

Ibunya Firzha menyambutku masuk di ruang tamu, walau beliau duduk di kursi roda. Sudah 3 tahun ini dia terkena stroke, dan kehilangan fungsi kedua kakinya. Meski begitu beliau tetap menjalani kehidupan dengan seperti biasa, tak ingin dianggap orang yang sakit.

            “ Assalamu’alaikum tante, bagaimana kabarnya?”. Aku melepas topi ku dan meyalaminya.

            “ Alhamdulillah, baik. Firzha sedang di kamarnya, buat tugas sekolah katanya, masuk saja langsung”.

            “ oh iya tante, permisi ya”.

Rumah Firzha tidak terlalu besar, jadi aku langsung membuka pintu kamarnya, yang memang sedikit terbuka.

              Assalamu’alaikum zha”.

            “ Wa’alaikumsalam, eh tumben lo pulang sekolah langsung kesini”.

            “ Iya gue males pulang”.

            “ Gue mau tanya sama lo zha”. Sambungku

“tanya apa? Pelajaran?”. Dia bertanya seakan terheran dengan apa yang ingin ku tanyakan padanya

Enggak ini soal Riani”. Kataku sambil duduk di kursi plastic yang ada disebelahnya.

“ Wih, gue bakal dapet gossip menarik nih kayak nya”. Katanya sambil beranjak keluar dari kamarnya.

 

Kamar Firzha tidak terlalu besar, tapi nyaman. Sejak sekolah dasar, hampir setiap hari aku dan teman teman yang lain main disini. Ya maklum saja diantara teman teman yang lain, hanya indra yang punya satu set play station.

Tidak lama Firzha kembali dengan membawa teko berisikan minuman jeruk kesukaanku, dan tentunya beserta cemilan.

  firzha

 

 

 

 

 

 

“ Enggak, gue cuma penasaran aja sama dia”. sambungku

“ Loh Gue aja yang se kelas sama dia, enggak punya rasa penasaran, habisnya, dia itu seperti menjauh dari orang orang”. Katanya sambil menaruh minuman dan cemilan diatas meja belajarnya

“ Nah betul juga apa kata lo, tadi pas gue ngobrol sama dia, dia nangis zha”.

  Wah alamat sih lu, masa bikin dia nangis”. Lagi lagi dia meledek ku.

“ Tapi jujur Dan, menurut gue sih, Riani orangnya baik, cuma selebihnya gue enggak tau”. Sambungnya .

“ Hmm, ya sudah lah, enggak perlu dipikirin, toh gue kan juga udah minta maaf sama dia”. Kataku sambil menuangkan segelas es jeruk tadi.

“ Lagian lo ada ada aja sih, kok bisa sampai nangis gitu”. Kata indra yang sedang membuka toples cemilan.

“ Ya mana gue tau zha!”. Rasa kesalku tak tertahan

 

Firzha hanya menatapku dengan senyuman menjengkelkan nya itu. Tapi setelah ku ceritakan kejadian tadi, akhirnya dia mengerti. Lagipula Firzha yang notabene se kelas dengan Riani, tak begitu mengenalnya.

            “ Yaudah Dan, besok gue coba bantu jelasin ke Riani”. Ucapnya.

            Begitulah Firzha sahabatku, dia memang sedikit menyebalkan. Tapi diantara teman teman yang lain, dialah yang paling mengerti diriku, dan bagaimana posisiku dalam suatu permasalahan. Aku hanya berharap kami berdua masih tetap menjadi sahabat sampai kapanpun.

            Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, tak terasa sudah 3 jam aku berada dirumah Firzha. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

            “ Eh zha, ibu lo dimana? Mau pamitan gue”.

            “ Coba lo cari di dapur, biasanya jam segini lagi masak buat makan malam”. katanya dengan nada agak keras.

Maklum saja,  dia sedang main game. Jadi fokus nya tak boleh ter alihkan. Saat itu aku langsung beranjak keluar dari kamarnya, menuju dapur, menemui ibunya Firzha. Benar saja, beliau sedang memotong sayuran untuk dijadikan makan malam. beliau tak sendirian, ditemani Indah, anak perempuan nya yang paling kecil itu.

            “ Tante, aku mau pamit pulang dulu”. Ucapku sambil menyalaminya

            “ Loh gak sekalian nunggu makan malam Danis? Sebentar lagi sudah mau matang masakannya”. Ucap ibunya Firzha

            “ Iya bang Danis, sekalian cobain masakan aku, hehehe”. Sahut Indah

            Itulah yang membuatku nyaman berada di dalam rumah ini. Sama sekali tidak ada negative vibes , baik dari keadaan luar rumah, dalam rumah, bahkan manusia yang tinggal dirumah ini semua ber aura positif.

            “ Aduh, tadi kan aku juga sudah makan disini tante, maaf sudah merepotkan”. Aku menolaknya dengan halus, karena aku tidak enak dengan keluarganya. Setiap datang ke rumah ini, segala yang mereka punya pasti di keluarkan, serasa bak rumahku sendiri.

            “ Aku pamit pulang dulu ya, terimakasih, assalamu’alaikum”. Kataku sambil berjalan keluar

            “ Wa’alaikumsalam, iya hati hati Danis”. Ucap ibunya Firzha.

 

Kembali memberanikan diri

Aku mulai berjalan menuju rumah dengan motorku. Dan tentang hal tadi, masih berputar di benak ku. Sudah ku coba untuk tidak memikirkannya, tapi…..

Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!

Suara klakson mobil mengagetkan ku, pikiranku yang tadi entah kemana, sudah tersadarkan. Tak sangka, aku berada di jalur yang salah.

            “ Astaghfirullahaladzhim, kok gue jadi bengong sih”. Gumam ku.

            Akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke minimarket, membeli sebotol minuman dingin atau kopi untuk membuatku kembali fokus. Pasalnya, menyetir dengan keadaan seperti ini memang membahayakan. Sesampainya aku di minimarket tersebut, aku langsung mengambil kopi cappuchino kesukaanku.

           

Aku tak sadar kalau dibelakangku ada orang yang memang menunggu untuk mengambil minuman dari kulkas display tersebut. Aku hanya melihatnya sekilas saja, perempuan yang lebih pendek 15 cm dariku. Memakai hoodie oversize berwarna cream. Dan dia mengambil kopi yang sama denganku.

            “ Enak nya beli cemilan juga nih, buat rima, aidil dan hani”. Ujarku dalam hati

            Aku berjalan meninggalkan antrean ku di kasir, menuju display snack.       Aku membeli beberapa snack kesukaan mereka berdua, dan biskuit kesukaan Rima.

            Saat aku ingin kembali ke antrean, aku berpapasan dengan perempuan ber hoodie cream itu. Tampaknya dia juga akan membeli snack. Saat dia menatapku, aku terkejut.

            “ Eh, Riani……”. Kataku sedikit terkejut.

            Dia tak mengatakan apapun, hanya diam, kemudian pergi meninggalkanku. Aku hanya menoleh sedikit untuk memastikan bahwa itu memang Riani. Tampaknya dia tidak memperdulikanku, se benci itukah dia?

 

            Saat keluar, aku duduk di kursi teras minimarket tersebut. Juga sambil menunggu Riani keluar. Aku benar benar ingin minta maaf padanya.

            “ Riani, tunggu!”. Ucapku dengan nada agak keras, berharap dia mendengarnya.

            Alhamdulillah, dia mendengarku. Dia berhenti ditempat, dan aku langsung menghampirinya.

            “ mau apa lagi lo?”. Ucapnya sinis terhadapku

            “ gue cuma mau minta maaf sama lo”. Kataku dengan pelan, takut membuatnya menangis lagi.

            “ gue udah bilang, gue enggak mau kenal sama lo”

            “ iya , gue minta maaf “. Aku memperjelasnya lagi

            “yaudah, gue maafin “.

            Kata katanya itu membuatku merasa lega, masalahnya dia selalu cuek kepadaku. Dan kukira aku tak akan pernah mendapat maaf darinya.

            “ Lo dari mana? Mau kemana?”. Kataku mencairkan suasana.

            “ Gue dari rumah Azizah, Lagi nunggu angkot mau pulang”. Katanya tetap dengan sikap judesnya

            “ Mmm… mau gue anter pulang? Kebetulan gue bawa motor sendirian”.

            Ah begitu bodohnya aku sembarangan mengatakan hal tak sopan padanya. Tadi sepulang sekolah aku membuatnya menangis, dan sekarang, dengan se enak jidat, aku menawarkan akan memboncengnya?. Pasti dia mengira aku akan modus padanya. Aku sungguh menyesal mengatakan itu.

           

“ Yaudah, ayok, lumayan irit uang ongkos gue”. Ucap Riani masih dengan sikap judesnya itu

            Aku terkejut mendengar jawabannya, sedikit senang, tapi tidak sedih juga.

            “ Oh Oke, tunggu gue ambil motor dulu”. Kataku dengan nada sedikit gembira

Dan tiba lah saat yang paling mendebarkan, aku memboncengnya. Aku tak tau mengapa, walaupun disepanjang jalan tak ada obrolan diantara kami berdua. Dia hanya bicara saat menunjukan jalan kearah rumahnya, tidak lebih. Dan aku pun menjadi canggung dibuatnya.

            “ Mmm… tadi waktu disekolah, lo nyebut nama Ran, emangnya dia siapa?”. Kataku agak keras, agar dia mendengarnya. Karena jalanan Jakarta sedang ramai waktu itu.

           

Seperti yang ku katakan, dia tak bicara sepatah kata pun kepadaku, selain menunjukan arah. Kupikir dia tersinggung dengan pertanyaanku. Jadi aku tak mengajaknya bicara lagi. Sampai tiba dirumahnya.

            “ Makasih ya, Danis,  eh, bener kan gue, nama lo Danis?”. Ujarnya

            “ Iya sama sama”. Aku membalas ucapannya dengan suara pelan dan senyuman tipis.

            Aku bergegas putar balik, untuk pulang. Saat aku sudah mulai jauh, aku melihatnya di kaca spion motorku. Riani masih memperhatikanku. Bukan merasa pede, tapi memang itu kenyataannya.

            Mulai sore itu, entah kenapa aku menjadi sangat senang. Kini, aku tau rumah riani. Dan yang paling penting, apa yang di katakan Firzha tadi benar. Riani, itu baik.

Komentar